Cerpen Karya: Gusti Ramadhania
Kelas XI Usaha Layanan Wisata (ULW) 2
SMK Penerbangan Sriwijaya Palembang
Sejak kecil, Nia selalu dekat dengan Bunda Anita. Walau ia bukan anak kandung, Nia tinggal bersama tante nya karna ibu kandungnya merantau ke luar negri dan ayahnya entah ke mana. Bunda Anita memperlakukannya sama seperti anak sendiri, tidak pernah ada perbedaan. Nia sering bermain bersama Zie, putri kandung Bunda Anita, sementara Om Reza—suami Bunda—selalu mendukung dan memperlakukan Nia seperti bagian utuh keluarga mereka. Kehangatan itu membuat Nia merasa benar-benar memiliki rumah.
Namun, belakangan Nia dan Zie sama-sama resah melihat kondisi Bunda Anita. Nafasnya sering tersengal, dadanya kerap terasa sesak. Meski terus berusaha tersenyum, Bunda akhirnya dibawa ke rumah sakit dan dokter menyarankan operasi jantung segera dilakukan. Malam sebelum operasi, Bunda memeluk suami dan kedua anak perempuannya. “Kalian harus kuat, ya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti saling menyayangi.” Kata-kata itu terpatri kuat
di hati mereka.
Hari operasi pun tiba. Nia dan Zie duduk bersebelahan di ruang tunggu, menggenggam tangan Om Reza yang berusaha terlihat tegar meski matanya basah. Suasana penuh kecemasan. Waktu berjalan terasa sangat lambat. Hingga akhirnya, dokter keluar dan berkata, “Operasi berjalan lancar, tapi kondisi pasien masih lemah. Kita harus menunggu.” Ada sedikit kelegaan, tapi bayangan buruk tetap menghantui.
Sore itu, mereka bertiga diizinkan menjenguk sebentar. Bunda Anita berbaring lemah dengan selang dan mesin di sekelilingnya. Meski suaranya nyaris tak terdengar, ia sempat berkata lirih, “Aku sayang kalian…” Nia, Zie, dan Om Reza menangis, menggenggam tangan Bunda erat-erat. Harapan masih ada, meski tipis.
Sayangnya, malam hari kondisi Bunda Anita mendadak memburuk. Bunyi alarm mesin memenuhi ruangan. Dokter dan perawat bergegas melakukan tindakan, sementara Nia dan Zie memeluk ayah mereka di luar ruang perawatan. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, dokter keluar dengan wajah muram. “Maaf, kami sudah berusaha. Jantung beliau tidak mampu bertahan.” Dunia seakan runtuh bagi keluarga kecil itu.
Tangis pecah di ruang rawat ketika mereka dipersilakan melihat Bunda untuk terakhir kali. Om Reza memeluk istrinya dengan wajah hancur, sementara Nia dan Zie saling berpegangan tangan, menahan pilu. “Bunda, terima kasih sudah mencintai kami,” bisik Nia dengan air mata deras. Kehangatan yang selama ini menjadi pelindung mereka lenyap dalam sekejap.
Hari pemakaman Bunda Anita dipenuhi isak tangis. Langit mendung seakan ikut berduka. Nia berdiri di samping Om Reza dan Zie, menatap tubuh Bunda yang perlahan diturunkan ke liang lahat. Doa-doa dipanjatkan, air mata tak terbendung. “Selamat jalan, Bunda… terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan,” bisik Nia dengan suara bergetar. Saat tanah mulai menutup peti, hati Nia terasa ikut terkubur bersama kehangatan bundanya.
Hari-hari setelah pemakaman begitu sunyi. Om Reza berusaha kuat di depan anak-anaknya, namun sesekali Nia melihatnya termenung lama di ruang tamu. Zie, yang masih kecil, sering menangis di pelukan Nia. Mereka bertiga saling menguatkan, meski rasa kehilangan seolah tak pernah benar-benar hilang. Nia mencoba menggantikan peran Bunda Anita sebisanya, meski ia sendiri masih dihantui rasa rindu.
Namun, waktu terus berjalan. Beberapa bulan kemudian, kabar mengejutkan datang. Om Reza memutuskan untuk menikah lagi. Alasannya sederhana: ia ingin ada sosok yang bisa mendampingi dan membantu mengurus Zie. Nia hanya terdiam, hatinya terasa campur aduk—antara kecewa, bahagia,sedih, dan bingung. Ia merasa seolah bayangan Bunda Anita di istri barunya yang cantik dan baik
Tak lama setelah pernikahan itu, Om Reza mengajak istri barunya pindah ke kampung. Zie ikut bersama mereka, karena ia adalah anak kandung yang harus tetap bersama ayahnya. Nia hanya bisa menatap dari kejauhan saat mobil yang membawa Om Reza, istri barunya, dan Zie meninggalkan rumah. Air mata menetes di pipinya, perasaan ditinggalkan menguasai hatinya.
Kini, rumah yang dulu penuh kenangan bersama Bunda Anita benar-benar sepi. Nia memilih tetap tinggal bersama kerabat dekat yang menampungnya. Malam-malamnya sering dilalui dengan tatapan kosong ke arah foto Bunda Anita yang tersenyum lembut. “Bunda, Nia sendiri sekarang,kasian juga liaat nyai… tapi Nia janji akan tetap kuat, seperti yang Bunda ajarkan,” bisiknya lirih. (*)







