Rutan Kelas 1 Palembang Dorong Perubahan dan Pembinaan Humanis

Berita120 Dilihat

PALEMBANG|Dutaexpose.com- Sejak menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Palembang  pada Mei 2025, M. Pithra Jaya Saragih terus melakukan berbagai pembenahan serta mendorong program pembinaan yang lebih humanis bagi warga binaan.

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, sejumlah perubahan mulai terlihat, baik dari sisi pembinaan warga binaan maupun perbaikan fasilitas di lingkungan lapas.

Hal tersebut disampaikan Pithra saat menggelar pertemuan bersama awak media di Palembang, Senin malam (16/3/2026). Ia menegaskan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai tempat pembinaan bagi warga binaan agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih baik.

“Kami ingin warga binaan keluar dari sini dengan bekal keterampilan dan mental yang lebih baik. Mereka bukan orang yang harus dipandang sebelah mata, mereka bukan sampah seperti yang orang bilang tetapi mereka manusia yang masih memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi produktif,” ujar Pithra.

Menurutnya, berbagai program pembinaan terus dijalankan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat. Mulai dari pelatihan kerja, kegiatan kreatif, hingga pembinaan keagamaan yang dilakukan secara rutin.

Program tersebut diharapkan mampu membentuk kemandirian warga binaan sehingga mereka memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.

Selain itu, pembinaan mental dan spiritual juga menjadi perhatian penting. Pithra menilai pendekatan ini dapat membantu membentuk karakter warga binaan agar lebih siap menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.

Tak hanya fokus pada program pembinaan, Pithra juga mulai melakukan berbagai pembenahan fasilitas di Lapas Pakjo. Salah satunya dengan merapikan tata ruang yang sebelumnya digunakan sebagai gudang kini dijadikan ruang belajar bagi warga binaan.
Perbaikan juga direncanakan pada ruang tunggu bagi pengunjung agar lebih nyaman.
“Dengan kapasitas sekitar 1.600 warga binaan, tentu fasilitas yang ada perlu terus ditingkatkan. Kami ingin pengunjung yang datang juga merasa lebih nyaman,” jelasnya.

Selain itu, di Lapas ini juga telah dikembangkan program dapur sehat serta pemanfaatan lahan berkebun yang dikelola oleh warga binaan bersama petugas.
Program tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan di dalam lapas, tetapi juga menjadi sarana pembinaan agar warga binaan dapat terlibat dalam kegiatan produktif.

“Ini kami lakukan agar mereka tetap memiliki aktivitas yang positif selama menjalani masa pembinaan,” katanya.

Pithra menegaskan, berbagai langkah yang dilakukan bukan sekadar untuk mencari popularitas, melainkan sebagai bentuk komitmen untuk menghadirkan perubahan yang nyata di lingkungan lapas.

Dengan pendekatan yang lebih humanis, ia berharap warga binaan yang nantinya bebas dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan tidak kembali terjerumus ke dalam tindak kriminal.
“Kami ingin Lapas menjadi tempat pembinaan yang benar-benar memberi harapan baru bagi warga binaan,” tutupnya. (ndre)