PALEMBANG | DutaExpose.com – Sungai Musi makin sesak. Bukan oleh air, tapi oleh tongkang dan pelabuhan batubara. Mantan Anggota DPRD Palembang 2019-2024, Muhammad Arfani, menyebut kondisi ini sudah lampu merah.
“Ini pembunuhan ekosistem, bukan pencemaran lagi. Pelan tapi pasti, Musi kita bunuh sendiri,” kata Arfani, Rabu, 29 April 2026.
4 Sumber Masalah dari Pelabuhan Batubara
Fani, sapaan akrabnya, memetakan empat pemicu utama kotornya Sungai Musi dari aktivitas batubara:
1. Tongkang Telanjang: Lalu lalang tongkang tanpa penutup bikin debu batubara beterbangan, jatuh ke sungai tiap hari.
2. Tumpahan Loading: Proses muat batubara dari darat ke tongkang banyak yang tercecer. Sedikit demi sedikit, jadi bukit.
3. Air Lindi Stockpile: Tumpukan batubara di bibir sungai kena hujan jadi air asam. Mengalir bebas ke Musi karena banyak yang tak punya IPAL.
4. Limbah dari Tongkang: Oli, solar, air kotor dari kapal kerap dibuang langsung ke sungai.
“Empat itu saja sudah cukup bikin Musi batuk berdarah. Apalagi kalau tiap hari,” ujar Fani.
Bukan Cuma Kotor, Tapi Juga Bahaya
Menurut Arfani, dampaknya tak berhenti di air keruh. Ada ancaman lain yang lebih dekat ke warga:
“Yang kena bukan cuma ikan. Rumah warga di bantaran sudah beberapa kali ditabrak tongkang. Jembatan juga. Sedimentasi bikin Musi dangkal, kualitas air turun, ekosistem rusak. Biota Sungai Musi terancam punah,” jelasnya.
Pemerintah Dinilai Lembek
Arfani terang-terangan menyorot lemahnya pengawasan. Izin pelabuhan gampang keluar, tapi kontrolnya absen.
“Peraturan lengkap, tapi di lapangan nol besar. Tongkang tak pakai cover didiamkan. Stockpile tanpa IPAL dibiarkan. Tabrak jembatan cuma minta maaf. Karena hukumannya ringan, pengusaha pilih melanggar. Lebih murah bayar denda daripada beli terpal,” sindirnya.
Ia juga menyentil DLHK dan Dishub yang dinilai kerja musiman.
“Giliran viral baru sidak. Musi ini butuh dijaga 24 jam, bukan kalau ingat.”
CSR Jangan Cuma Bagi Sembako
Selain soal pengawasan, Arfani menyorot dana CSR perusahaan batubara yang tak menyentuh akar masalah.
“Jangan bangga bagi sembako tiap tahun, tapi Musinya sekarat. CSR itu wajib pulihkan sungai. Bikin IPAL komunal, normalisasi alur, restocking ikan, tanam mangrove di muara. Itu baru tanggung jawab,” tegasnya.
Menurut Fani, banyak perusahaan batubara untung triliunan dari Musi, tapi kontribusi ke sungai sangat minim.
“Ambil untung dari Musi, kembalikan ke Musi. Jangan cuma sedekah foto, tapi sungai tetap hitam.”
4 Tuntutan untuk Selamatkan Musi
Arfani mendesak tiga level pemerintahan, dari Pemkot Palembang, Pemprov Sumsel, hingga pusat, segera bertindak:
1. Kaji Ulang Izin Baru: Moratorium semua izin pelabuhan batubara sampai audit lingkungan beres.
2. Wajib Terpal dan IPAL: Tongkang harus ditutup, stockpile harus punya IPAL. Langgar, cabut izin.
3. Awasi Ketat, Buka Data: Bentuk satgas gabungan. Hasil uji kualitas air Musi wajib diumumkan tiap minggu ke publik.
4. Hukum Berat Pelanggar: Tabrak jembatan, cemari sungai, proses pidana. Jangan cuma teguran.
“Musi itu nadi Sumsel. Kalau pemerintah terus diam dan CSR cuma gimmick, kita bakal cerita ke anak cucu bahwa dulu di sini ada sungai besar, sekarang tinggal selokan batubara,” tandas Arfani.







