Aku Gapai Cita-cita dari Kantin Sekolah

Pendidikan161 Dilihat

Cerpen Karya: Anesya Putri Hainun
Kelas 10 Air Frame
SMK Penerbangan Sriwijaya Palembang

Namaku Rian, seorang siswa kelas XI di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan. Sejak ayahku meninggal dua tahun lalu, ibuku menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai penjahit sederhana. Namun, penghasilan ibu tentu tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah, apalagi untuk biaya sekolahku.

 

Karena itu, aku memutuskan untuk bekerja di kantin sekolah. Setiap pagi sebelum bel masuk, aku membantu menjaga kantin dengan berbagai pekerjaan, mulai dari menyiapkan makanan, mengangkat galon air, hingga membersihkan meja. Meski terasa melelahkan, aku berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Upah yang kudapat tidak besar, tetapi setidaknya cukup untuk membeli perlengkapan sekolah, membayar uang praktikum, dan sedikit membantu ibuku di rumah.

Awalnya, aku sering merasa minder. Teman-temanku melihatku bekerja sambil berseragam sekolah. Ada yang memandang dengan kagum, tetapi tidak sedikit yang berbisik seolah meremehkan. Meski begitu, aku mencoba untuk tetap kuat. Aku percaya bahwa pekerjaanku bukan sesuatu yang memalukan, justru itulah bukti bahwa aku berusaha mandiri.

Suatu hari, ketika aku sedang membantu menjajakan makanan, salah satu temanku menghampiri. Ia membeli roti bakar yang kubuat dan berkata,
“Rian, kamu hebat. Tidak semua orang bisa sekolah sambil bekerja. Aku salut sama kamu.”

Kalimat itu membuatku terdiam sejenak. Ada rasa bangga sekaligus haru di dalam hati. Untuk pertama kalinya aku benar-benar menyadari bahwa kerja keras tidak selalu dipandang rendah.

Hari-hari terus berjalan, dan aku semakin terbiasa dengan rutinitas ini. Setiap lelah yang kurasakan terbayar lunas ketika aku melihat senyum ibu saat aku menyerahkan sebagian uang hasil kerjaku. Di balik semua itu, aku menyimpan satu tekad: “Aku ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.”

Bekerja di kantin sekolah mengajarkanku arti tanggung jawab, kerja keras, dan kemandirian. Aku percaya, suatu hari nanti semua usaha ini akan menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih baik. (*)