“Sahabat… Sakitku Untuk Bahagiamu !

Pendidikan168 Dilihat

Cerpen Karya: Adila Islamia
Kelas 11 Usaha Layanan Wisata (ULW) 1
SMK Penerbangan Sriwijaya Palembang

Namaku Syila dan mempunyai sahabat karib bernama Raya. Sejak hari pertama kami saling bertemu di sekolah ini,bsemua orang tahu bahwa kami tidak akan pernah terpisahkan.

Suatu hari Raya mengenalkan seorang lelaki kepadaku dia bernama Gio. Raya mengenalnya karena mereka satu perguruan silat. Dia mengenalkannya kepada ku karena di malam itu aku melihat fotonya di hp dan berkata,,
“Raya.. Dia tipe ku” .

 

Lalu Raya berkata “Raya.. Aku akan berusaha mendekatkanmu kepadanya”. Saat itu ternyata aku memiliki perasaan kepada laki-laki manis yang bernama Gio itu.

Hari-hari setelahnya, aku lebih sering diam perihal masalah itu. Dan pada akhirnya Gio mengikuti akun sosial media Raya bukan sosial mediaku. Aku senang melihat itu, tapi setelah melihat ekspresi Raya pada hari itu rasanya ada yang berbeda.
Ternyata mereka saling berkomunikasi, Lalu aku? Tampaknya dia melupakan kata-katanya kepada pada saat malam itu. Tetap berusaha tenang meskipun ada yang berbeda.

Suatu sore, kami duduk berdua di teras rumah ngobrol tentang bagaimana keadaan masing-masing setelah seharian berkegiatan di sekolah. Lalu tanpa aba-aba Raya bertanya. “Syila apakah kau masih memiliki perasaan kagum terhadap Gio”. Yang ada di dalam pikiranku pada saat sore itu adalah “Mengapa dia menanyakan soal ini “. Lalu aku menjawab pertanyaan tadi “Jika rasa itu masih ada apa hubungannya dengan mu”. Dia terdiam tanpa kata-kata dia meninggalkanku sendirian di teras itu.

Keesokkannya aku jawab kembali pertanyaan yang dia berikan kemarin sore, “Aku hanya berkata dia tipe ku bukan berarti aku menyukainya”. Kata-kata yang bahkan entah mengapa bisa keluar dari mulut ku sendiri, sedangkan hati ku? Ahhhhhh aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri “Apa artinya cinta jika hanya membawa iri? Bukankah cinta seharusnya membuat kita belajar ikhlas, meski tak terbalas?

Maka aku memilih langkahku. Aku tetap menjadi sahabat yang mendukung, mendengarkan cerita Raya tentang hubungan kedekatannya dengan Gio, meski dalam hati ada rasa yang harus kutelan perlahan. Aku memilih tersenyum, sebab aku tahu, cinta tidak selalu harus memiliki.

Aku menjalani hari-hari dengan perasaan yang lebih tenang. Mungkin aku tidak memiliki cinta itu, tapi aku yakin, suatu hari nanti cinta juga akan menemukan jalannya untukku.

“Aku mencintaimu tanpa syarat, seperti langit memeluk senja tanpa pernah meminta kembali cahaya yang perlahan pergi, karena ketika cinta hadir dengan ikhlas, luka pun menjadi pelajaran, bukan penyesalan.”
~marchgrils. (*)