CEOR Rama: Ujian Baru Pertamina Menghidupkan Kembali Lapangan Tua Reporter: M. Taupiq Rachman

Berita16 Dilihat

Dutaexpose.com|Lampung- PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) mulai mengimplementasikan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis polymer flooding di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES). Injeksi polimer perdana dilakukan pada 8 Juli 2026 dan menjadi implementasi CEOR lepas pantai pertama di Indonesia.

Proyek ini menjadi langkah strategis di tengah tantangan industri hulu migas untuk mempertahankan produksi dari lapangan-lapangan mature. Ketika eksplorasi dan pengembangan lapangan baru membutuhkan modal besar serta waktu panjang, cadangan yang masih tersimpan di lapangan tua menjadi salah satu sumber produksi yang relatif lebih cepat untuk dioptimalkan.

Lapangan Rama merupakan contoh nyata persoalan tersebut. Mulai berproduksi sejak 1975, lapangan ini pernah mencapai produksi sekitar 60.000 barel minyak per hari (BOPD). Namun, setelah hampir lima dekade beroperasi, produksinya terus menurun. Setelah sebelumnya mengandalkan secondary recovery melalui injeksi air, produksi Rama kini berada di kisaran 3.500 BOPD.

Padahal, menurut SKK Migas, recovery factor Lapangan Rama baru sekitar 38 persen. Artinya, sebagian minyak masih berada di dalam reservoir dan secara teknis masih memiliki peluang untuk diproduksikan.

Di sinilah CEOR mendapat peran. Teknologi polymer flooding dilakukan dengan mencampurkan polimer ke dalam air injeksi untuk meningkatkan kemampuan air menyapu reservoir. Dengan karakteristik aliran yang lebih terkendali, air diharapkan dapat menjangkau area reservoir yang sebelumnya kurang tersapu dan mendorong minyak menuju sumur produksi.

Berdasarkan hasil proyek percontohan, penerapan CEOR diproyeksikan meningkatkan recovery factor sekitar 8,63 persen. Jika hasil tersebut dapat diterjemahkan menjadi kinerja produksi sesuai ekspektasi, produksi Lapangan Rama ditargetkan meningkat dari sekitar 3.500 BOPD menjadi sekitar 10.000 BOPD.

Target tersebut menunjukkan besarnya ekspektasi yang dibebankan pada proyek ini. Namun, angka peningkatan produksi tersebut juga menjadi bagian paling krusial yang harus dibuktikan di lapangan.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut injeksi polimer perdana di Rama sebagai tonggak penting pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia. Menurutnya, teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan recovery factor sekaligus memberikan kontribusi terhadap lifting minyak nasional.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menempatkan proyek ini sebagai bagian dari strategi memperpanjang umur produktif lapangan migas yang telah berusia puluhan tahun. Menurutnya, lapangan mature bukan berarti aset yang telah selesai, melainkan membutuhkan pendekatan teknologi baru.

Namun, keberhasilan CEOR Rama tidak cukup diukur dari keberhasilan melakukan injeksi polimer. Ujian sebenarnya adalah bagaimana reservoir merespons injeksi tersebut dan seberapa besar respons itu dapat dikonversi menjadi tambahan produksi yang konsisten dan ekonomis.

Tantangannya semakin besar karena proyek ini dijalankan di lingkungan offshore. Keterbatasan ruang pada platform, kebutuhan keselamatan yang tinggi, logistik bahan kimia, serta tuntutan menjaga operasi produksi tetap berjalan membuat penerapan polymer flooding membutuhkan desain dan pengelolaan yang lebih kompleks.

PHE OSES sebelumnya telah melakukan berbagai kajian sebelum masuk tahap implementasi, mulai dari studi subsurface, pengujian laboratorium, desain engineering, perencanaan operasi offshore, kajian keekonomian hingga manajemen risiko. Proyek juga melalui assessment dan review yang melibatkan para ahli EOR dari SKK Migas dan Pertamina.

Dalam rantai pendukung proyek, PT Elnusa Tbk melalui anak usahanya, PT Elnusa Petrofin, terlibat dalam penyediaan bahan polimer, Polymer Injection Unit (PIU), serta pengelolaan operasional di lapangan.

PHE OSES menargetkan manfaat penuh proyek dapat direalisasikan hingga 2030. Selama periode tersebut, data produksi dan respons reservoir akan menjadi modal penting untuk menentukan apakah teknologi ini dapat dikembangkan secara full field.

Jika berhasil, Rama berpotensi menjadi lebih dari sekadar proyek percontohan. Keberhasilannya dapat menjadi referensi bagi penerapan CEOR di lapangan-lapangan offshore lain yang telah memasuki fase mature, sekaligus membuka peluang untuk mengoptimalkan cadangan yang selama ini belum dapat diproduksikan secara maksimal.

Sebaliknya, jika hasil produksi jauh di bawah proyeksi, proyek ini akan menunjukkan bahwa keberadaan cadangan yang tersisa belum tentu otomatis menjadikan EOR layak diterapkan secara komersial.

Karena itu, pertaruhan CEOR Rama sesungguhnya bukan hanya soal teknologi polymer flooding. Proyek ini menjadi ujian apakah teknologi tersebut mampu mengubah sisa potensi reservoir menjadi tambahan lifting yang nyata, ekonomis, dan berkelanjutan.

Di tengah kebutuhan Indonesia menjaga produksi minyak nasional, keberhasilan atau kegagalan Rama akan memberikan pelajaran penting mengenai sejauh mana lapangan-lapangan tua masih dapat diperpanjang umur produktifnya melalui inovasi teknologi. (taufik)