Palembang|DutaExpose.com – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sumatera Selatan menggelar kegiatan _coffee morning_ bersama insan media pada Jumat, (11/07), di Aula Lantai 2 Kantor Karantina Sumsel. Kegiatan ini mengusung tema “Crisis Communication & Digital Storytelling: Strategi Terpadu Media Relations untuk Karantina Era Digital.”
Kepala Karantina Sumsel, drh. Sri Endah Ekandari, M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah dan media dalam membangun citra positif dan menyampaikan informasi publik secara tepat dan transparan.
“Karantina bukan hanya tentang pemeriksaan dan sertifikasi komoditas, tetapi juga bagaimana kita menyampaikan tugas dan peran tersebut secara humanis, cepat, dan akurat. Dalam situasi krisis, narasi yang dibangun akan menentukan kepercayaan masyarakat,” ujar Sri Endah.
Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat kemitraan antara Karantina dengan media massa. Lebih lanjut, untuk memperkuat kapasitas pegawai dalam menghadapi tantangan komunikasi publik, turut hadir praktisi media untuk memberikan materi dalam kegiatan tersebut.
Pimpinan Redaksi Tribun Sumsel 2012-2023 dan pernah mewawancarai langsung Yasser Arafat, Lucia Weny Ramdiastuti, menyampaikan bahwa transformasi komunikasi dari reaktif menjadi proaktif adalah kunci utama membangun kepercayaan publik. Lucia menjelaskan bahwa publik membutuhkan informasi yang jelas, edukasi risiko yang ringkas, serta akses komunikasi yang terbuka dan mudah dijangkau.
“Karantina harus mampu tampil sebagai “guardian yang friendly”, bukan sekadar penjaga yang formal dan kaku. Narasi institusi perlu diubah dari sekadar penyampai kebijakan, menjadi figur yang hadir dengan empati, aksi nyata, serta humanisasi petugas sebagai pahlawan penjaga keamanan hayati,” tutur Lucia.
Muhamad Fajar Wiko, Ketua AJI Palembang Coverage Sumsel, yang hadir sebagai pemateri juga menambahkan bahwa _digital storytelling_ dan strategi _media relations_ di era keterbukaan informasi sangat dibutuhkan dalam membangun narasi positif melalui media sosial dan pemberitaan.
Tidak hanya dibekali materi, peserta yang terdiri dari jajaran pejabat struktural, Tim Hubungan Masyarakat Karantina Sumsel, serta perwakilan dari media lokal baik cetak, elektronik, maupun daring juga mendapat sesi _roleplay_ dan simulasi krisis yang menggambarkan bagaimana lembaga menghadapi situasi sulit seperti penahanan komoditas, kasus penyelundupan, atau potensi wabah. Simulasi ini bertujuan melatih respons cepat, penyusunan narasi publik, dan koordinasi dengan media.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Karantina Sumsel dalam mengembangkan komunikasi yang efektif dan strategis, tidak hanya sebagai penyampai informasi teknis, namun juga membangun kepercayaan dan citra lembaga di mata publik dan pemangku kepentingan.
“Support untuk menambah wawasan dari sisi karantina Sumsel dan saling komunikasi dua arah antara media dan pihak narasumber, yang dalam hal ini narasumber utama Ibu Kepala Karantina Sumsel. Sehingga bisa terjalin sinergitas pentahelix,” terang Feny, peserta coffee morning dari IDN Times Sumsel.
Dengan berlangsungnya Coffee Morning ini, Karantina Sumsel berharap sinergi yang baik dengan insan pers dapat terus ditingkatkan. Di era digital yang serba cepat dan terbuka, komunikasi publik yang andal menjadi kebutuhan utama untuk menjaga reputasi institusi dan pelayanan kepada masyarakat. (ndre)







